Sabtu, 03 Desember 2016

Review Pementasan Jupri dan Bajak Laut oleh Teater Castra Mardika


Kebudayaaan dalam suatu bangsa akan berkembang dengan seiringnya perubahan zaman, dari kebudayaan tradisional ke peralihan sampai akhirnya menjadi budaya yang modern. Pergesaran kebudayaan ini disebabkan oleh banyak hal seperti adanya globalisasi yang menyebar luas . Akan tetapi bukan berarti kita menutup diri rapat-rapat dari kebudayaan luar, kita hanya perlu melakukan penyaringan atau pemilihan  terhadap budaya luar tersebut sehingga sesuai dengan kepribadian bangsa kita.
Suatu contoh akibat globalisasi yang paling nyata yaitu ibukota Indonesia, Jakarta. Jakarta dulu merupakan kota yang kental akan budaya betawi, namun sekarang sudah jarang ditemui kebudayaan betawi di Jakarta seperti lenong salah satu contohnya. Meskipun sudah sedikit peminatnya, Teater yang berasal dari UKM UNJ ini masih berusaha untuk melestarikan budaya betawi dengan menampilkan Teater yang berjudul Jupri dan Bajak Laut.
Sebelumnya saya belum pernah menyaksikan pementasan yang di persembahkan oleh Teater Castra Mardika, maka dari itu ketika saya mendapatkan broadcast dimana isi pesan tersebut memberitahukan pada 30 November 2016 akan ditampilkan sebuah pementasan teater dari teater tersebut. Rasa penasaran saya bertambah ketika saya melihat latihan mereka di teater terbuka UNJ. Begitu lihai mereka melatih tubuhnya dan sempat beberapa kali blocking. Dan alhamdulillah saya akhirnya menonton mereka diatas panggung yang cukup megah di sebuah gedung pertunjukkan Mis Tjitjih Jakarta.
Pementasan dimulai pukul 7.30 malam waktu setempat, kemudian terdengar suara berat menyambut penonton dan mempersilahkan penonton untuk menikmati pertunjukkan. Lampu kemudian mati, dan tidak lama menyala kembali, beberapa orang dengan baju berwarna hitam keluar dari backstage sebelah kiri, mereka adalah para pemusik. Suara tepuk tangan penononton mulai memecah ruangan yang tadinya sunyi dan pementasan pun dimulai.
Musik betawi tiba-tiba berbunyi dengan suara sound yang keras, kemudian lampu menyala warna-warni untuk menyambut para aktor keluar. Mereka muncul berbaris layaknya paskibra dari 4 sisi pangung yang berbeda berjalan membentuk sebuah blocking yang indah. Pembukaan yang sangat menakjubkan, menghibur para penonton yang lelah seharian dengan rutinitasnya. Suara musik yang semangat seraya menyemangati para aktor diatas panggung di kombinasikan dengan lampu-lampu berkelap-kelip yang menjadikan warna kostum yang mereka pakai terlihat.
Tiba-tiba keluarlah sosok yang mungkin sudah tidak asing bagi kita yang sering menonton televisi, yaa, dia adalah alumni UKM UNJ yang membentuk sebuah group lawak bernama Cagur, Narji namanya. Dipementasan kali ini beliau menjadi seorang dalang. Ia menceritakan asal-usul cerita tersebut, setelah selesai tanpa basa-basi ia berkata “Kembali ke Tee Pee Uuu”, biar antimainstream ucapnya kalau dia menyebutnya ‘kembali ke TKP’.
Lakon Jupri dan bajak laut menceritakan seorang yang lahir ditanah betawi bernama Jupri yang ternyata ia seorang keturunan China. Jupri murid pindahan yang sekarang disekolahkan, gurunya dipanggil oleh murid-muridnya dengan sebutan Kangguru. Sayangnya Jupri malah bermalas-malasan dikelas, ia tertidur pulas dalam pelajaran pencarian arah mata angin. Setelah selesai sekolah ibunya datang untuk memberitahukan bahwa ayahnya telah meninggal. Sebelum meninggal ayahnya menuliskan wasiat kepada Jupri agar anaknya mengambil harta warisan yang ia tinggalkan di kota Ceribon. Akhirnya Jupri mulai menjelajah pulau jawa untuk menuju kota Ceribon, namun sayang seribu sayang, ia tak tahu arah yang dituju karena tertidur di pelajaran arah mata angin, ia pun tersasar. Lelaki dengan logat betawinya yang kental itu bertemu wanita cantik bernama Edith, dia seorang bajak laut, singkat cerita edit mengetahui bahwa Jupri ingin mencari harta warisan ayahnya, edithpun tergiur dengan harta warisan tersebut, akhirnya edith memanfaatkan kedekatannya dengan Kapten ketek grondrong seorang kapten dikapal agar Jupri dapat menumpang dikapalnya. Sempat ada beberapa perhelatan hebat dikapal akibat keputusan edit dan kapten namun semua terselesaikan dengan baik.

Cerita yang cukup menarik, namun ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan setelah menonton pementasan tersebut. Saya merasakan sedikit tidaknyaman ketika musik yang dimainkan untuk menyambut celetukkan dalang terus diulang-ulang. Meskipun begitu suara sound yang keras dan alunan musik betawi yang dimainkan secara live membuat saya terhibur.
Saya tidak begitu menyukai suasana adegan dalang bercerita, ketika lampu semua padam dan tersisa lampu sorot berwarna kekuningan. Saya merasa kurang asik untuk permainan warnanya, panggung tersebut lebih terlihat rumah yang sedang mati lampu dimana dalang membawa lilin ketengah panggung. Kemudian untuk sebuah pementasan terkadang kita memang harus mengikuti perkembangan zaman, dan ini adalah teater ke 3 yang pernah saya nikmati, mereka menggunakan infocus bergambarkan hutan untuk latar panggung dengan sedikit sentukan pohon yang telah ditebang di sisi kanan panggung. Di adegan kedua, mereka tidak menggunakan infocus tetapi panggung diisi dengan barang-barang seraya sedang diatas kapal. Kemudian di scene ketiga mereka kembali menggunakan infocus dengan gambar bendara bintang dan udang yang menunjukkan ke khasan kota Ceribon.

Makeup adalah salah satu bagian penting dalam sebuah pementasan, ketika para pemain tidak memakai hiasan diwajah rasanya pementasan seperti kurang lengkap seperti yang saya rasakan ketika melihat Dalang. Selain itu sentuhan makeup juga menguatkan karakter para aktor namun saya kurang setuju dengan pemilihan warna yang digunakan dalam pementasan ini, warna dasar yang digunakan terlalu putih seperti memakai pidi, lalu countouring di pipi terlihat kurang natural. Adapun makeup karakter laki-laki tua yang digunakan kangguru dan bajak laut tidak natural karena mungkin tidak di blended. Saya juga sedikit bingung untuk penggunaan make up ibu jupri terlihat seperti geisha, menurut saya akan terlihat lebih realis jika wajahnya diberi sentuhan make-up cantik dan sedikit sentuhan eyeliner agar terlihat sipit.
Ragam baju yang eye catching terlihat bagus karena warnanya yang beragam, cerah, dan lucu. Beberapa baju bajak laut tidak terlalu kuno dan antimainstream mengikuti perkebmbangan zaman.
Pada saat pengadeganan saya rasa ada beberapa aktor yang tidak seharusnya dimainkan, karena mereka sangat kaku. Saya juga sangat notitce kepada Kangguru karena ia sering melakukan pengulangan yang membuat dialog tersebut agak jayus. Dalam sebuah pementasan memang kita tidak pernah luput dari kesalahan seperti Ibu jupri tiba-tiba masuk kedalam panggung tanpa motivasi, lalu adegan ketika jupri membaca wasiat dari ayahnya, surat yang dibacanya sudah diputar sampai bawah tetapi belum habis isi surat tersebut ia malah menarik surat dan membacanya kembali dari atas.
Meskipun begitu saya merasa senang ketika melihat jupri beradegan karena actingnya sangat baik dan luwes. Tapi yang harus saya akui pula pendalaman karakter dari segi warna suara untuk menjadi seseorang yang lahir ditanah betawi kurang kuat. Yang lebih cocok dijadikan Jupri adalah si bajak laut karena warna suaranya yang berat dan sedikit serak.
Ditengah pertunjukkan saya menyadari bahwa ada beberapa aktor yang bertanggung jawab memerankan dua karakter, entah apa karena sdm yang kurang atau memanfaatkan aktor dengan sebaik-baiknya. Ketika melihat Edith, dia adalah seorang gadis yang cantik, tinggi dan putih, namun ternyata keaktorannya sangat disayangkan. Dia begitu kaku memainkan setiap dialognya terlebih ketika dia melakukan slowmotition, terlihat sekali bahwa anggota tubuhnya yang hidup hanya kakinya, namun dari pinggang keatas badannya benar-benar kaku. Maka siapapun yang membaca tulisan ini, kalian harus sadar bahwa olah tubuh sangatlah penting untuk menjadi seorang aktor.  Begitupun Qoriah seorang wanita berprofesi sebagai asisten dikapal ini sangat kurang mendalami karakternya, terutama ketika ia sedang duduk-duduk dikapal mendengarkan ceramah sang kapten, ia duduk menyamping bagaikan wanita dari sebuah kerajaan yang berasal dari pulau jawa, mungkin akan lebih baik ketika ia duduk menyila atau mengangkat sebelah kakinya agar terlihat lebih liar, dengan begitu ia akan terkesan seperti seseorang yang memang sudah berpengalaman banyak di laut.
Hal yang saya sadari di penghujung pementasan adalah rasa kantuk yang tak henti-hentinya menyerang saya, mungkin ini akibat dari dialog yang tektoknya lama sehingga membuat pementasan ini terasa sangat lambat dan bisa ditebak adegan-adegan selanjutnya. Dan yang paling mengganggu saya adalah ada banyak adegan-adegan kurang penting seperti si Dalang terlalu berlama-lama dipanggung dengan adegan improvisasi yang  sangat  jayus.
Meskipun begitu saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Teater Castra Mardika, karena banyak pelajaran yang dapat saya ambil hikmahnya setelah pementasan tersebut, saya pun sangat menghargai bagaimana Komunitas tersebut masih ingin berusaha melestarikan budaya salah satu kota di Indonesia yaitu Ibu Kota Jakarta. Untuk menutup, tanpa mengurangi rasa hormat, saya secara pribadi meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar Castra Mardika karena  mungkin saya terkesan begitu terlihat sok tahu dalam mereview pementasan kali ini. Namun saya hanya ingin menyampaikan beberapa kesan dan untuk mengenang setiap pementasan yang saya hadiri. Sayapun berharap semoga review saya kali ini berguna untuk merefleksi diri agar menjadi lebih baik kedepannya.

Salam Budaya
Talitha Shabrina


Review pementasan Monolog 3Perempuanku. Bukan bunga bukan lelaki.




Monolog? setiap mendengar kata itu selalu muncul rasa penasaran yang amat dalam dibenak saya. Bagaimana bentuknya? Ada berapa aktornya? Bagaimana cara memainkannya? Apa berbeda dengan pementasan Teater? Dan Monolog 3Perempuanku ini adalah pementasan Monolog pertama yang saya tonton langsung.

Monolog ini menceritakan tentang tiga perempuan berbeda “ kelas sosial”,  Wagiyem, Renata, dan Liza sama- sama menjadi korban poligami seorang lelaki, mantan preman yang kemudian menjadi anggota parlemen di Jakarta. Wagiyo Tirto Hadikusumo, nama anggota parlemen itu “kabur” ke Jakarta meninggalkan Wagiyem selama 10 tahun, yang akhirnya Wagiyem menjadi buruh cuci dikampungnya. Ketika menetap di Jakarta , Tirto Alias Wagiyo menikahi Renata, seorang perempuan kota lulusan sekolah luar negeri. Renata tak punya daya untuk menolak Tirto karena rayuan ayahnya yang mengiming-imingkan Renata akan menjadi pejabat. Namun disitulah awal mula penderitaan Renata, ia tahu bahwa Tirto sudah memiliki istri di kampung dan wanita simpanan, ia menyadari suaminya sudah jarang pulang. Sementara Liza adalah perempuan bercita-cita sederhana, hanya ingin menjadi penyanyi dangdut berkelas nasional dengan memiliki album. Cita-cita itulah yang di plintir Wio (Wagiyo) untuk menjanjikan album, dengan syarat mereka harus menikah. Ketiga perempuan berbeda latar belakang itu tidak bodoh, mereka mencium ada yang tidak benar dengan perilaku laki-laki yang mengabaikan mereka. Pun mereka tidak buta isu yang berkembang di masyarakat, ada pejabat yang memakai jam berharga miliaran rupiah, dan yang bertemu Donal di Amerika.


Pementasan dimulai. Layar perlahan naik membuka panggung. Tiba-tiba mata saya tidak ingin berkedip satu detikpun melihat settingan panggung yang sangat-sangat membuat saya kagum, tidak berhenti mata ini menyusuri setiap detail panggungnya “saya jatuh cinta”.

Setting panggung menggambarkan 3 rumah dengan konsep setiap rumah mencerminkan derajat para pemainnya. Modern and simple.

Rumah Renata : ruang tamu, bunga, boneka sofa mini dan meja yang modern
Rumah Wagiyem : beberapa ember dan gilasan untuk mencuci
Rumah Liza : ruang tamu ala kos-kosan dengan meja, bucket bunga dan kursi panjang
Yang paling menarik hati adalah mereka menggunakan Video Maping untuk latar panggung. Menurut saya ini adalah angin segar dalam satu pementasan, menyesuaikan dengan keadaan zaman atau bisa saya sebut “ tidak kaku” perinterpretasiannya.

Belum sampai disini decak kagum saya. Saya sangat terkejut ketika layar naik sampai atas. Dan disanalah para pemusik bermain. Panggung diatas panggung? Wow.
Lightingnya juga tidak kalah kerennya, porsinya pas untuk setiap adegannya. Saya seperti  ada di acara festival-festival musik ketika Dewa Budjana turun panggung dan memainkan gitar melodinya.


Jika dilihat dari segi naskah, isinya sangat menarik dan penuh dengan sindiran-sindiran pada para pemimpin negeri ini.

"Maju-maju partaiku, sejahtera anggotanya'. Anggotanya? Bukan rakyatnya ya?" Renata, bertanya kepada teman di telepon tentang lagu yang harus mereka nyanyikan di Munas.

Monolog tanpa interaksi dari ketiga tokohnya ini membuat para pemain dapat mengeksplorasi peran masing-masing.


Wagiyem, muncul sebagai seorang buruh cuci berbadan gemuk, berlogat ngapak juga cadel R yang menurut saya dia sama sekali tidak terlihat ‘berpura-pura’ dipanggung. Lalu Renata, seorang wanita sosialita cantik berkelas, dengan pembawaan gaya bicara seperti pejabat yang muncul dengan membawa banyak belanjaan. Sementara Liza Sasya, muncul dengan karakter khasnya yaitu goyangan galau dan desahan genit dalam setiap katanya, warna suara serta cengkok dangdut yang indah melengkapi kesempurnaan actingnya.



Namun dari ketiga pemain diatas yang menurut saya sangat berkarakter adalah Wagiyem( Innaya) dan Liza ( Happy Salma), mereka mampu berinteraksi dengan penonton juga mengajak penonton untuk tertawa setiap menitnya. Saya tidak merasakan kesan “mereka berusaha melucu dan sangat ingin ditertawakan”.

Dari segi cerita, kita diajak untuk bercermin pada kehidupan kita, khususnya para wanita, kenyataan yang mungkin sudah pernah kita lihat, dengar dan rasakan.

Adegan terakhir ditutup dengan monolog satu persatu menyampaikan pesan dan peringatan untuk kita semua. Mereka tidak ingin perempuan menjadi korban dalam kasus korupsi, perempuan bisa menjadi pilar dalam memberantas korupsi.

"Jangan sampai ada Wagiyem, Renata dan Liza yang lain."


Saya masih sangat awam dalam dunia Teater, Review ini saya tulis sebagai kesan pertama saya terhadap monolog, dan Rangga Riantiarno sebagai sutradara juga para aktor berhasil membuat saya terkagum-kagum pada Monolog, #3PEREMPUANKU, Bukan Bunga Bukan Lelaki.

Selamat atas pementasannya. Semoga saya masih bisa menikmati pertunjukan Monolog yang luar biasa.

Salam Budaya

Talitha Shabrina

Review Pementasan TED dengan lakon Death Of Salesman



Kemarin malam 8 Maret 2016 tepat pukul 7 malam Theatre Of English Department mempersembahkan sebuah lakon berjudul Death Of Salesman yang di Sutradarai oleh salah satu Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris ini, yang pada pementasan sebelumnya mereka telah menampilkan lakon Sweeny Todd dengan sangat baik.

Penulis dari naskah yang mereka mainkan adalah Arthur Miller, seorang penulis dan juga pemain drama yang lahir di New York pada tahun 1915. Alasan TED memainkan naskah ini karena novel The Death of Salesman sudah dikenal di mata dunia. Dan sudah sering di pentaskan di Broadway. Pentas ini berhasil menceritakan tentang tragedy besar di Amerika.
Sekilas sinopsis, lakon ini berkisah tentang seorang salesman tua yang sudah tidak produktif lagi dalam menggaet pembeli dan mengalami konflik batin tingkat akut sehingga terlalu banyak melamun  sampai seolah-olah lamunan dan kenyataan sudah saling mempenetrasi. Sering setiap kali ia mendapatkan kesempatan sendiri ia gunakan untuk merenung, lamunan langsung menyerangnya.

Death of Salesman adalah sebuah cerita tentang tragedy social dan juga individu yang menunjukkan perubahan pada budaya. Hal ini dapat dilihat dari tokoh utama dalam cerita ini, Willy. Ia merupakan salah satu dari kelompok kelas menegah neurotic yang terjebak di sebuah kota besar dengan mimpi-mimpinya.

Drama tersebut menyajikan bentrokan dramatis antara  mimpi dan kenyataan. Willy, seorang yang memiliki pemikiran jauh dari realita. Ia mencoba untuk menyarankannya anaknya, biff, untuk mengikuti alur mimpi-mimpi Willy. Menjadi seorang salesman sukses.
Ketika perlahan ia mulai mendekati realitas buruk di dalam kehidupannya, Willy tidak pernah menyadari bahwa akan ada fakta menyakitkan yang merubah keadaan keluarganya.
Namun, fakta buruk terjadi. Willy merasa kehilangan segala kehormatannya di hadapan anaknya. Suatu hari, Biff melihat seorang wanita dikamar Willy. Biff pun sangat terkejut dan kecewa terhadap apa yang diperbuat oleh ayahnya.

Willy menyesalkan atas semua yang sudah terjadi. Dia pun masih menyimpan rapat-rapat rahasianya ini. Hanya Biff dan dirinya lah yang tahu. Disisi lain Biff pun tak ingin menceritakan kepada siapapun atas apa yang sudah diketahuinya tentang keburukan ayahnya. Biff merasa seperti mengkhianati ibunya karena tidak menceritakan hal ini. Namun, Biff pun tidak ingin hubungan kedua orang tuanya tidak harmonis karena ini. Selain dia gagal menjadi seorang salesman sukses, dia juga gagal menjadi seorang ayah yang baik buat anak-anaknya. Ketika dia tahu bahwa ada yang berubah pada diri Biff, dia menjadi frustasi. Dan Willy pun menyadari bahwa bukan karena kepribadian menarik dari seseorang, tetapi uang yang menjadikan manusia disukai di masyarakat.

Disisi lain, Happy, anak kedua dari Willy, memperhatikan gerak – gerik ayahnya tsb. Dia merasa ada yang aneh dengan ayahnya karena Willy sering berbicara tidak jelas pada dirinya sendiri. Happy mengkhawatirkan keadaan ayahnya.

Kedua anak Willy mengerti dan memahami akan semua kondisi yang dialami ayahnya. Tetapi Willy seolah tak ingin menyadari keterpurukannya. Dia tetap berusaha memperlihatkan pada anak-anaknya, dan juga istrinya jika dia masih tetap kaya. Walaupun faktanya Willy sudah tidak memiliki harta yang bisa diwariskan pada mereka.

Klimaks dari cerita ini pun terjadi. Kegagalan Willy untuk mengenali cinta yang ditawarkan kepadanya hanya lah siksa batin. Dalam fikiran Willy, tidak adanya pengetahuan diri yang dia miliki, menjadikan dia untuk mencapai hasil yang nyata dari semua ketidaksuksesannya tsb.  Dalam semua angannya, tidak ada yang bisa terwujud. Dan akhirnya dia berusaha untuk bunuh diri. Dengan cara ini lah dia mengakhiri semuanya.

Saya cukup kecewa dengan pementasan kali ini karena ada banyak detail yang hilang dari pentas sebelumnya.


Untuk setting panggung saya kurang menikmatinya karena mereka menggunakan konsep yang sama yaitu menggunakan panggung atas dan bawah terkesan rumah bertingkat. Namun posisi yang mereka gunakan hampir mirip dengan pentas sebelumnya.

Di bagian lighting ada beberapa adegan yang warna lampunya tidak sesuai. Kemudian aktor kurang peka dengan keberadaan lampu, sehingga sering wajah mereka tidak terlihat karena gelap.

Untuk makeup panggung para aktor tidak terlihat natural karena makeup yang kurang rata, terlalu putih dan tidak menjamah bagian leher juga tangan hanya fokus dimuka saja sehingga menyebabkan seperti hantu. Makeup karakter pada aktor perempuan belum sesuai dengan umurnya yang tua, karena dia masih terlihat cukup muda .

Kemudian kostum yang mereka gunakan cukup sesuai dengan naskah bahkan pementasan teater di america, namun kostum tokoh utama kurang bervariasi karena terkadang kostum dengan suasana adegan tidak sesuai.  Ketika willy dan istrinya berada di luar rumah mereka menggunakan sendal hotel, mungkin akan lebih indah jika mereka menggunakan sendal biasa.

Disetiap adegan mereka menggunakan rekaman instrumental dan gitar. Saya sangat menyayangkan ketika musik pendukung sering tidak muncul, yang menyebabkan adegan penting terlewat begitu saja tanpa ada penekanan atau pendukung. Hal itu membuat alur pementasan begitu datar.

Untuk keseluruhan isi adegan saya tidak tahu kenapa mereka diluar ekspektasi saya. Mereka hanya mengobrol dan memainkan intonasi saja. Terlalu monoton karena tidak ada adegan spesial. Tidak seperti pentas sweeny todd yang memiliki titik-titik klimaks dan antiklimaksnya. Sepanjang pementasan sering saya tidak paham kapan pergantian suasana atau waktunya, berganti begitu saja tanpa ada pengubahan setting atau penjelasan.

Suara dan sikap dari karakter linda si perempuan tua tidak menggambarkan umurnya cukup timpang jika dibandingkan dengan willy. Bisnis acting para aktor agak monoton, seperti contohnya mereka sering menaruh tangan dikantong dan minum air, begitu terus berulang.
Pergantian adegan sangat lama kira-kira sekitar 4 menitan lampu redup namun memang tetap ada sedikit musik pelan megiringi dan lampu yang remang.

Akan tetapi tidak dipungkiri saya begitu mengagumi tokoh utama Willy, kekonsistennan beractingnya membuatnya terlihat sangat natural, tidak seperti dibuat-buat. Juga cara berdialog para aktor yang sangat baik, artikulasi yang cukup jelas, intonasi yang baik, dan accent yang pada porsinya atau tidak berlebihan.

Untuk menutup, tanpa mengurangi rasa hormat, saya secara pribadi meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar TED karena  mungkin saya terkesan begitu lancang atau terlihat sok tahu. Namun saya hanya ingin menyampaikan unek-unek keluh kesah saya sendiri. Saya sangat berharap mendapatkan kesempatan lagi untuk menonton pentas TED selanjutnya dengan konsep yang lebih segar.

Terimakasih, salam budaya


Talitha Shabrina

Jumat, 30 September 2016

Menjadi Mahasiswa Baru? Jangan Culture Shock !!


Mungkin memang sangat menyenangkan ketika nama kita tertera dalam pengumuman kelulusan SNMPTN/SBMPTN atau masuk Perguruan Tinggi yang di idam-idamkan. Ya, memang suatu kebanggaan yang luar biasa jika dunia studi yang kita harapkan selama ini bisa benar-benar terwujud di kehidupan kita sekarang. Namun ingat, jangan terlalu lama-lama nyaman dengan apa yang telah digapai, karena ini bukan akhir dari masa studimu, tapi ini adalah awal dimana kamu akan fokus pada bidang yang kamu pilih, dan ini pula yang akan membawamu ke dunia kerja nanti.

Melangkah ke dunia studi baru biasanya akan memberikan semangat dan energi baru, terlebih dunia studi tersebut adalah yang diharapkan selama ini. Menyandang perubahan status dari siswa menjadi mahasiswa, pasti memberikan kebanggaan tersendiri bagi tiap pelakunya. Namun, sebelum berjibaku di bangku perkuliahan, ada baiknya para mahasiswa baru (MABA) perlu mempersiapkan diri dengan matang. Sebab, sukses di bidang akademik tidak hanya membutuhkan kecerdasan otak, tapi juga membutuhkan keterampilan dalam segala hal.

Nah disini saya akan berbagi pengalaman dengan kamu mahasiswa baru, langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan setelah menyandang status “Mahasiswa” :


1.       Pastikan jurusan yang diambil sesuai
Disebuah kampus, entah itu kampus favorit ataupun tidak, pasti ada yang namanya mahasiswa masuk jurusan yang tidak sesuai dengan keinginan atau biasa disebut “kecemplung”, dikarenakan pilihan terakhir. Kalau kamu merasa bahwa kamu memang tidak berminat, tidak nyaman, bukan passionmu, bahkan tidak memiliki keahlian dibidangnya, maka cepatlah ambil tindakan sebelum terlambat. Karena jika kamu memilih untuk pindah jurusan dari semester awal itu lebih baik daripada setelah sudah melewati 5 semester dan kamu baru menyadari bahwa kamu tidak suka atau tidak berbakat dibidang tersebut. Kamu tidak akan membuang-buang sisa umurmu dengan kesia-siaan. So, putuskan sekarang juga.

2.       Tentukan target kelulusan
Disinilah banyak janji-janji palsu yang akan terucap ketika menjadi MABA. Sangat mudah menjawab ketika orang bertanya “Target lulus mau sampe berapa tahun?” dan dengan keyakinannya MABA menjawab “ 3,5 tahun dong”.  Tapi tidak disangka-sangka setelah semester 4 janji itu akan sedikit demi sedikit memudar karena pergaulan bebas, terlalu sibuk organisasi, mendapatkan nilai diluar ekspektasi, bekerja sambil kuliah dsb.

Yang harus kamu lakukan sebagai MABA yang baik hati, rajin menabung dan tidak sombong adalah tentukanlah target kelulusan mu kemudian kamu bisa menempelkan target itu besar-besar dikamar agar kamu selalu ingat tinggal berapa tahun/bulan/hari lagi kamu harus lulus dari kampus tersebut. Kemudian kamu harus yakinkan dirimu setiap hari bahwa kamu harus konsisten akan janjimu.

3.       Hindari kebiasaan-kebiasaan buruk di SMA
Sangat sulit menghilangkan kebiasaan ketika kita masih di SMA, karena memang selama kurang lebih 3 tahun kita berkutat di sekolah dengan teman yang itu-itu saja dengan guru yang itu-itu saja dan dengan pelajaran yang itu-itu saja. Sehingga kita sudah terlalu nyaman dengan kebiasaan belajar yang juga itu-itu saja.

Ketika kamu sudah memasuki dunia perkuliahan, terkadang kamu akan merasakan Jetlag belajar, yaitu dimana kamu akan merasa tidak bisa mengatur waktu dengan baik. Berbeda dengan SMA yang masuk pukul 6.30 dan pulang pukul 15.00, jam matakuliah dikampus akan sangat bervariasi. Terkadang kamu akan mendapatkan full day classe, dimana kamu akan berangkat gelap dan pulang gelap kemudian ada pula jam kuliah bolong-bolong, contohnya kamu hanya memiliki 2 matakuliah, masuk pukul 8 pagi setelah selesai kamu harus menunggu matakuliah kedua di jam 4 sore. Disini kamu harus benar-benar memanfaatkan waktu senggang tersebut dengan bijak, karena yang sudah terjadi mereka yang memiliki waktu senggang seperti itu akan lebih memilih mampir ke kostan teman dan memilih untuk tidur atau sekedar menonton. Padahal yang seharusnya dikerjakan mahasiswa adalah berdiskusi.

Maka kuatkanlah imanmu agar tidak terpengaruh oleh kebiasaan-kebiasaan malas sewaktu di SMA, belajarlah ketika ada waktu kosong, minimal diskusikan apa yang akan dipelajari nanti, itu akan sangat membantu.

4.       Siap-siap Shock Culture!
Apasih Shock Culture? Saya juga baru menemukan kata tersebut dibangku perkuliahan. Dimana kamu akan benar-benar bertemu dengan berbagai karakter-karakter manusia secara langsung, kemudian melihat kebiasaan-kebiasaan yang janggal. Di SMA biasanya kamu akan bertemu dengan orang-orang yang masih dominan normal, tapi ketika masuk kampus mungkin kamu akan berkata “gila gila gila beda banget... 180o asli” , kenapa? karena disana kamu akan bertemu dengan orang-orang yang terkadang lucu, unik bahkan menyenangkan tapi bisa jadi kamu akan bertemu dengan orang yang aneh, tidak wajar, unsoc extrem dll, ada pula beberapa orang yang akan bangga memamerkan kekasihnya yang “sejenis”, kemudian kalian juga bisa menemukan orang-orang yang tidak ada rasa malu memamerkan kemesraannya dimuka umum dannnn... coba temukan sendiri. Kuncinya, jangan kaget dan adaptasi J.

5.       Carilah teman yang sesuai dengan karaktermu dan mendukungmu
Penting sekali untuk berkumpul dengan komunitas yang baik, karena insyaAllah kita akan tertular sifat baiknya. Bisa diibaratkan seperti penjual minyak wangi, kalau kita berteman dengannya kita akan kecipratan wanginya. Komunitas yang baik dan mendukung itu yang bagaimana? Di dunia kampus, kamu akan menemui berbagai macam komunitas, yang terdiri dari beragam orang yang memiliki karakter yang berbeda. Ada yang pola hidupnya agamis, sosialis, hedonis, nasionalis, sampai-sampai ada yang anarkis. Apapun itu, seorang mahasiswa baru bagai lembaran kertas putih yang harusnya diberi tinta emas untuk menuliskan kisah perjalanan dengan baik. So, pilih komunitas yang baik dan manfaatkan itu untuk menjaga motivasi dan niat baik kamu kuliah di kampus ini.

Oiya satu hal, jika kamu tidak menemukan komunitas yang menurutmu baik dan mendukung, sebagai agen of change tentunya kamu punya hak untuk mengubahnya atau dengan membuat komunitas baru yang baik.

6.       Jadilah mahasiswa yang baik dan kenali karakteristik dosen
Ikuti kuliah dengan baik, dengarkan penjelasan dosen, ikuti aturan mainnya dengan cerdik. Yang terpenting adalah ikuti kuliah di pertemuan awal, biasanya akan disampaikan kontrak kuliah, peraturan hasil kesepakatan dosen – mahasiswa, dst. Umumnya mahasiswa baru yang fresh graduate dari SMA lebih menurut dari pada yang lebih senior, karena datangnya tidak telat, rajin masuk,dsb. Walaupun biasanya ada jatah “absen” 10 -20% pertemuan kuliah, tapi jangan ada niat untuk memanfaatkannya diawal, gunakanlah kesempatan tersebut jika kalian merasa sakit atau ada hal yang sangat penting yang tidak bisa ditinggalkan.

Ada berbagai macam dosen yang akan kamu temui. Dosen yang cuek dengan mahasiswa, dosen yang sangat care, tidak terlelak pula selalu ada dosen killer , dosen yang selalu Baper, ada dosen yang selalu memberikan nilai E satu angkatan, ada pula dosen yang tidak pernah memuji tetapi ada juga yang memuji berlebih, ada dosen yang sangat idealis, ada dosen yang mengajarnya jelas dan tidak jelas sama sekali, ada dosen yang tampan ada juga dosen yang cantik sehingga sering kali mahasiswa salah fokus. Dengan mengenal karakteristik dan model dosen yang mengajar, kamu bisa menyesuaikan model dan strategi belajarmu.

7.       Mahasiswa Kupu-Kupu?
Ini bukan berarti mahasiswa kupu-kupu adalah mahasiswi yang suka dengan kupu – kupu sampai semua aksesorisnya serba kupu-kupu. Kamu akan sering mendengar kata ini setelah masuk kuliah. Mahasiswa Kupu-Kupu ini adalah mahasiswa Kuliah Pulang – Kuliah Pulang, maksudnya dalam hidupnya sebagai mahasiswa kegiatannya hanya kuliah kemudian pulang ke kost/kontrakan/rumah saja, tidak memiliki kegiatan yang bermanfaat untuk masa depan.

Selagi kita masih berstatus Mahasiswa baru, pasti rasa ingin tahu(kepo) masih sangat besar, masih semangat, maka manfaatkan Open House UKM, event-event di kampus, kegiatan – kegiatan kemahasiswaan dengan baik. Minimal ada 1 kegiatan yang kamu suka, minati, inginkan dan dambakan sejak SMA. Tetapi jika ada dari kamu yang sama sekali tidak tertarik dengan UKM, BEM, kegiatan-kegiatan kemahasiswaan lainnya, tenang masih banyak pilihan di luar kampus, kalian bisa mencari peruntungan lain dengan mengajar les, ikut kegiatan sosial, dst. Karena masa menjadi mahasiswa ini adalah masa dimana kita bisa banyak belajar untuk persiapan kembali ke masyarakat dan membangun negeri ini. Dengan catatan, baik kegiatan non akademik maupun akademik, semua harus seimbang.

“Akademik jangan sampai mengganggu kita dalam berkarya, berkarya jangan sampai mengganggu kita dalam akademik.” -Talitha


8.       Tulis impianmu di awal semester ini dan atur strategimu
Tulis impianmu melalui kampus ini sejak dini dan jadikan itu menjadi target kesuksesanmu selama kuliah. Jangan jadikan semuanya itu hanya mimpi, tapi berusahalah untuk mewujudkannya dengan mengatur strategi. Bagaimana itu ? Jangan menyendiri, akan tetapi galilah informasi sebanyak-banyaknya dari para senior yang telah menginspirasimu untuk sukses, baik itu mahasiswa berprestasi dalam akademik, non akademik atau juga yang telah sukses dalam kehidupannya.



Rabu, 23 Desember 2015

Cerita SMA

It's been long time ago... sorry to late upload

Hai kamu-kamu pembaca setia dalida story hehe maaf ya baru bisa buka blog ini lagi.
tau kenapa baru buka? haha soalnya ini tuh udah to the max banget, ceritanya mungkin hampir mirip sinetron gitu tapi yaa biar kalian yang nilai sendiri deh.

chekidot!

Once upon a time asek haha serius-serius, waktu itu akhirnya gue bisa kenal sama dia itu dari yang namanya Blacberry Masengger haha ceritanyaa waktu itu gue udah H-1 UN dan gue nge-chat semua kontak gue buat minta maaf sama minta doanya mereka gitu hehe, karna kalau gue Broadcast kaya ngga afdhol gitu men, akhirnya gue bbmlah si cowo ini, cowo yang baik hati, paling ngga bisa ngeliat cewe nangis, setia parah,putih, ganteng, anak futsal lagi yang datang ke kehidupan gue, mengisi hari-hari gue, dan menetap dihati gue hanya beberapa bulan. hahaha sinetron banget kan

Yak lanjut yaa, nah gue sih bbm dia biasa aja gitu kaya minta maaf besok mau UN doain yaa unnya lancar ngerjainnya diberi kemudahan, singkat cerita udah pengumuman jalur undangan snmptn, alhamdulillah nilai un gue peringkat 13 se angkatan ipa dengan nilai rata-rata 8,3 dan gue alhamdulillah lagi dapet rezeki masuk snmptn Pend Bahasa Perancis di UNJ.

Malem itu suddenly dia bbm gue, "gimana ka hasilnya?" haha masih sopan gitu doi, terus gue jawab " alhamdulillah lulus de hehe peringkat 13 seipa doong" "congrats ka" "haha iyaa merci, hadiah doong" haha masa gue yg dapet rezeki gue yang minta hadiah gitu, tapi anehnya emang cuma dia yang jawab "mau hadiah apa ka" gue sedikit bingung sama agak zonk gitu, nih anak serius ape bercanda ye kaan, gue bales aja " serius? ticket chelsea bisa keles::)" hahaha dikasih hati minta ampela, tapi dia malah bilang " berapa harganya emang?" nah disitu gue belum tau tuh harga ticket berapa akhirnya dia bilang "gimana kalo traktir nonton aja ka" lah? dalem hati gue nantang nih anak wkwk yaa gue jabanin dong "boleh abis ukk yaaak haha"

Malam itu pun berlalu, gue lupa soalnya ini ke jadian udah dua bulan yang lalu kalo ngga salah, OOHHHH YAYAYA, pokoknya pas malemnya itu gue cerita tentang mimpimimpi gue gitu dan gue ngga mau ngelanjutin, akhirnya dia mau main kerumah gue buat dengerin cerita gue dan gue mau nunjukin sesuatu gitu buat dia. yaa ya yaaaa nungguin dia pulang sekolah + nyasar-nyasar gitu kerumah gue wkwkwk sebenernya gue udah tau daritadi dia lewat bolak-balik depan rumah gue tapi kaya gue diemin gitu biar dia usaha haha, akhirnya keluarlah gue dari rumah manggil dia, Bang ganteng! aeh haha nengoklah dia yaudah akhirnya dia kaya markirin motornya dulu gitu depan rumah. Nah, disitu gue masih agak kaku gitu sama dia, tapi gue berusaha mencairkan suasana dengan kezonkan gue wakakakak dan itu bisa ngebuat dia mikirin gue terus*yaa feeling ajasih hahaha* soalnya setelah dari rumah gue itu, malemnya dia langsung bbm gue lagi, ngucapin terimakasih gitu,katanya maaf nyusahin haha gue bilang aja yaa woles kali, jangan kapok yaa main kerumah gue.

Minggu pagi dia bm gue dia minta bantuin ngajarin apa gitu gue lupa soalnya besok dia mau ukk,yaudah gue bantuin disitu gue juga lagi nganggur dan cari pahala kali ya haha, akhirnya dia jemput gue dan sampailah dirumahnya, kesan pertama gue masuk kerumahnya adalah gue ngerasa De Javu gitu, yaa you knowlah De javu gimana kan, model rumahnya dia itu kaya rumah-rumah di puncak gitu lebih tepatnya kaya villa, dia pun bilang emang model rumahnya sengaja dibuat kaya villa, ooooh yayaya karna yang bikin gua dejavu itu disaat gue masuk ke belakang rumahnya disitu ada kaya balkon dan persis didepan balkon itu ada pohon yang ada laba-laba gede plus sarangnya yang ngga pernah diusik sama nih anak. hahaha gokil

Di balkon itu ada kucing dua ekor yang dia kenalin ke gue, yang satu ibunya dia ngga punya nama gitu terus anaknya namanya i, kalian kaya bingung apa gimana sih, gue baru ketemu satusatunya orang pecinta kucing dan ngasih namanya itu cuma i, wkwkwk dudul yaaak yaudah jangan dibahas

Dirumah itu, gue duduk dan dia malah nyetel tv, gue tanya dong, lah kita ngga jadi belajar? kata dia ngapain belajar, ckckck karna dia tuh pernah bilang sama gue kalo dia ituu ya belajar ya disekolah doang, dia ngga pernah belajar dirumah, dirumah dia cuma mandi,makan,tidur,dengerin prambors.

Abis itu dia nyetel tv, kebetulan yang keluar adalah acara bola, nah sambil kita nonton, kita cerita-cerita tentang idola pemain bola masing-masing, dimana dia jelasin inspirasinya ialah David Beckham, dan gue tentunya cerita Fernando Torres si pemain bola favorite gue .... bersambung

Dibalik Jurusan Bahasa Prancis







Bahasa Prancis

Berawal dari tugas yang diberikan di matakuliah umum Bahasa Indonesia yang akan menceritakan serba- serbi JBP UNJ. Mengapa bahasa prancis?
Bahasa Prancis adalah salah satu bahasa besar di dunia ( peringkat II sementara) yang saat ini digunakan dibeberapa negara seperti Swiss, Kanada, Prancis, Belgia dan lebih dari 50 negara lainnya. Bahasa ini salah satu turunan bahasa latin yang termasuk dalam rumpun bahasa Roman.
Hingga tahun 2011 bahasa ini digunakan oleh lebih dari 129 Juta penduduk dunia sebagai bahasa pertama dan 128 Juta jiwa sebagai bahasa kedua. Bahasa Prancis adalah bahasa resmi di beberapa organisasi international seperti Uni Eropa (EU), Komite Olimpiade Internasional (IOC), Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) dan Federan  Sepak Bola Internasional.
Selain sebagai bahasa resmi dan bahasa kedua, bahasa prancis juga dipelajari di negara-negara Asia seperti Vietnam, Malaysia, Thailand tak terkecuali Indonesia. Bicara tentang Indonesia Bahasa Prancis ini dipelajari di dalam lembaga bahasa asing juga di Universita-universitas. Sebagai contoh Universitas Negeri Jakarta.

Jurusan Bahasa Prancis
Jurusan Bahasa Prancis (JBP) UNJ yang kini pada tahun 2015 berubah nama menjadi Prodi Jurusan Bahasa Prancis berdiri pada 1 Januari 1996 yang pada saat ini telah memiliki sekitar 15 dosen. Untuk menjadi dosen bahasa Prancis sangatlah sulit, karena sistem penyeleksian yang ketat sehingga masih banyak dosen yang sudah berumur namun masih mengabdikan dirinya disini seperti Monsieur Syakirin yang dikenal sebagai dosennya para dosen, umurnya sekitar 80 tahunan, selain itu ia sedang melanjutkan jenjang pendidikannya di Prancis untuk mendapatkan S3. Kemudian ada pula satu-satunya dosen muda yang cantik lagi energik, pintar pula. Mademoiselle Fauziah namanya, beliau adalah salah satu dosen yang dinobatkan sebagai dosen luar biasa yang berhasil menempuh jenjang pendidikan S2nya di Swiss.
Banyak rumor mengatakan dosen-dosen yang saat ini mengajar di tempat dimana saya sedang mengenyam S1 Pendidikan Bahasa Prancis sangat sulit memberikan nilai yang bagus untuk para mahasiswanya. Mungkin hal itu sudah menjadi rahasia umum. Oleh sebab itu setiap tahunnya banyak mahasiswa pergi meninggalkan JBP untuk pindah jurusan yang menurut mereka mudah untuk lulus, sehingga sampai hari ini masih banyak senior tua yang belum lulus.
Meskipun demikian rumornya, dosen kami termasuk dosen yang sangat peduli kepada mahasiswanya baik dalam etika maupun etiket. Mereka begitu perhatian memperhatikan pakaian kami dan perilaku kami. Mungkin setiap harinya akan ada saja mahasiswa yang dibicarakan di “Salle de Prof” hahaha salah satu contohnya dalam berpakaian, kami tidak diizinkan memakai pakaian yang terlalu terbuka bahkan terlalu sederhana pun tidak boleh. Menurut mereka jurusan kami berprodi Pendidikan maka untuk menjadi seorang guru bahasa Prancis harus menunjukkan etika dalam berpakaian. Bahkan merekapun akan mengetahui apakah baju yang kami pakai baru atau tidak, dan mereka juga tahu berapa kali dalam seminggu kami memakai baju yang sama. Kami dituntut untuk memiliki selera modern dan modis namun biar begitu harus tetap memperhatikan kesopanan dan kepantasan.

Dosen yang menginspirasi saya.
Semua hal pasti memiliki point negatif dan positif, begitu pun di JBP. Disini ada beberapa dosen yang memang pantas untuk dikagumi. Nah dosen yang sangat saya suka adalah natif saya sendiri, ia bernama Nourdine Simozrak, yang asalnya dari Prancis. Selain karena ketampanannya saya mengagumi sosoknya yang tegas dalam mengajar, memiliki pengetahuan yang sangat luas terutama tentang Prancis dan Agama Islam. Namun sayangnya hanya 6 bulan saja ia berkesempatan tinggal di Indonesia. Selain Monsieur Nourdine sayapun mengagumi dosen wanita yang telah mengajar saya selama kurang lebih satu tahun, beliau bernama Madame Ratna. Walaupun banyak yang mengatakan beliau adalah dosen “Killer” namun saya tetap menaruh hormat terhadap dirinya, chacun a son choix. Mengapa demikian? Karena dalam pandangan saya ia adalah seseorang yang sangat dewasa dan profesional. Dia pandai menguasai suasana, ketika mengajar ia dapat membedakan kapan harus serius dan kapan kita boleh bersantai. Tidak jarang dia memberikan guyonan-guyonan yang mengocok perut para mahasiswa dengan cerita dongeng pribadinya. Dan ketika ia sedang menjadi pengawas ujian, sikapnya 180 derajat berbeda, mahasiswa bisa tidak bergutik sama sekali pada saat itu intinya jangan pernah membangunkan singa tidur.

Budaya Mahasiswa JBP
Saya senang dapat menimba ilmu disini, kaarena sejauh ini saya mengenal kakak dan adik kelas yang ramah dan pintar pula. Ketika sedang berada diluar kampus, kami sering bercakap-cakap dengan bahasa Prancis malah untuk membicarakan seseorang. Bangga rasanya ketika semua mata tertuju kagum pada kami.
Banyak momen yang telah kami lewati bersama seperti menghadiri acara “ Festival Sinema Prancis”, Open House IFI Institut Francais Indonesie, Teater, sampai Konser Band Prancis. Saya, kakak kelas teman-teman dan adik kelas saling berbaur meski pada kenyataannya kami saling berlomba untuk secepatnya mendapatkan gelar S1.
Akan tetapi ada mitos pula yang mengatakan bahwa setiap angkatan ganjil akan mendapatkan teman-teman yang tidak solid atau kompak, sebaliknya untuk angkatan genap mereka memiliki rasa solidaritas yang sangat tinggi. Meskipun demikian kami hanya menganggap hal tersebut angin lewat saja. Ini kami, kami yang menjalaninya, tidak peduli orang berkata apa. Disini kami untuk berhasil. Saya yakin meski sulit untuk mempelajarinya bahasa Prancis, meski grammairenya yang membunuh kami perlahan, kami tidak akan menyerah karena hal itulah yang membuat kami merasakan indahnya kesuksesan.
Layaknya sebuah kampus yang memiliki perhimpunan mahasiswa, kami pun memiliki Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang pada tahun 2015 ini diketuai oleh wanita perkasa. Ia bernama Shinta, pun saya kagum dengannya karena ia terlihat dapat dengan mudahnya membagi waktu dengan baik. Walaupun sayang tahu ada banyak kegiatan atau organisasi yang dia ikuti. Meski demikian ia tidak pernah melupakan tugas utamanya sebagai mahasiswa dengan dibuktikan oleh nilai akademisnya yang sangat baik.
Bahasa Prancis termasuk bahasa yang sulit untuk dipelajari, mengingat strutur gramatikalnya yang sangat rumit untuk dipahami. Namun itu tidak membuat semangat saya tumpul. Karena rasa sulit mempelajarinyalah yang memotivasi saya untuk jauh lebih dalam mengenal Prancis.